Nama : AZIZIAH
NPM : 11212319
Kelas : 2EA20
NPM : 11212319
Kelas : 2EA20
Dampak Kenaikan Harga
Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Tingkat Inflasi dan Perekonomian Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Kebijakan
pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri
menyebabkan perubahan perekonomian secara drastis. Kenaikan BBM ini akan
diikuti oleh naiknya harga barang-barang dan jasa-jasa di masyarakat. Kenaikan
harga barang dan jasa ini menyebabkan tingkat inflasi di Indonesia mengalami
kenaikan dan mempersulit perekonomian masyarakat terutama masyarakat yang
berpenghasilan tetap.
Jika terjadi
kenaikan harga BBM di negara ini, akan sangat berpengaruh terhadap permintaan
(demand) dan penawaran (supply). Permintaan adalah keinginan yang disertai
dengan kesediaan serta kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan
(Rosyidi, 2009:291). Sementara penawaran adalah banyaknya jumlah barang dan
jasa yang ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga dan waktu tertentu.
Permintaan
dari masyarakat akan berkurang karena harga barang dan jasa yang ditawarkan
mengalami kenaikan. Begitu juga dengan penawaran, akan berkurang akibat
permintaan dari masyarakat menurun. Harga barang-barang dan jasa-jasa menjadi
melonjak akibat dari naiknya biaya produksi dari barang dan jasa. Ini adalah
imbas dari kenaikan harga BBM. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan, “Jika
harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan turun, dan
sebaliknya jika harga barang turun, jumlah barang yang diminta akan
bertambah”.
Masalah lain
yang akan muncul akibat dari kenaikan harga BBM adalah kekhawatiran akan
terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Ini terjadi karena dampak kenaikan harga
barang dan jasa yang terjadi akibat komponen biaya yang mengalami kenaikan.
Kondisi perekonomian Indonesia juga akan mengalami masalah. Daya beli
masyarakat akan menurun, munculnya pengangguran baru, dan sebagainya.
Inflasi yang
terjadi akibat kenaikan harga BBM tidak dapat atau sulit untuk dihindari,
karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan distribusi barang.
Disisi lain, kenaikan harga BBM juga tidak dapat dihindari, karena membebani
APBN. Sehingga Indonesia sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik itu tingkat
investasi, maupun pembangunan-pembangunan lain yang dapat memajukan kondisi
ekonomi nasional.
Dengan naiknya
tingkat inflasi, diperlukan langkah-langkah atau kebijakan-kebijakan untuk
mengatasinya, demi menjaga kestabilan perekonomian nasional. Diperlukan
kebijakan pemerintah, dalam hal ini Bank Sentral yakni Bank Indonesia untuk
mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat. Jumlah uang yang beredar di
masyarakat ini berhubungan dengan tingkat inflasi yang terjadi. Banyaknya uang
yang beredar di masyarakat ini adalah dampak konkret dari kenaikan harga BBM.
Bank Indonesia
selaku lembaga yang memiliki wewenang untuk mengatasi masalah ini, selain
pemerintah tentunya, bertugas untuk mengatur jumlah uang yang beredar di
masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mengatasi inflasi ini
adalah dengan mengatur tingkat suku bunga. Kebijakan menaikan dan menurunkan
tingkat suku bunga ini dikenal dengan sebutan politik diskonto yang merupakan
salah satu instrumen kebijakan moneter.
Dari latar
belakang diatas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai
“Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Tingkat Inflasi dan
Perekonomian Indonesia”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Aspek Aspek Kenaikan BBM.
Kenaikan BBM akan meninggalkan
luka mendalam dihati warga masyarakat, perhitungan ekonomis dengan menggunakan
berbagai macam indikator menginsyaratkan bahwa kenaikan BBM dianggap harga
mati, sedangkan aspek dampak bagi 40 juta masyarakat miskin tidak benar benar diperhitungkan,
semua dihitung dengan matematik, dengan statistik, dengan rasio dan persentase.
Padahal aspek - aspek yang ditimbulkan dampaknya tidak selalu matematis, Jika
BLT diluncurkan setiap 3 bulan dengan jumlah Rp. 150.000,00 /KK atau Rp.
150.000,00/Anggota Keluarga maka berapa pemasukan dari BLT, bandingkan dengan
kenaikan transportasi, kesulitan pelaku transportasi karena penumpang akan
lebih memilih kredit motor dibandingkan naik angkutan umum yang notabene
memiliki dampak pengeluaran yang sama tetapi memiliki nilai investasi yang
berbeda. Kenaikan harga kebutuhan pokok, kenaikan harga - harga lain yang
secara tidak langsung berhubungan dengan kenaikan BBM.
Kenaikan BBM bisa menjadi alasan
politis, bisa menjadi alasan ekonomis, bisa juga tanpa beralasan, penulis tidak
melihat aspek kenaikan ini tetapi melihat dampak dari kenaikan ini, setelah BBM
dinaikkan maka semua peneliti sosial wajib melakukan penyebaran kuesioner
terkait dengan daya beli, apakah daya beli masyarakat cenderung turun atau
cenderung tetap, jika daya beli menurun maka akankah mereka merasa sejahtera
jika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, berapa bisnis yang akan gulung tikar,
jika banyak perusahaan gulung tikar berapa banyak kejadian PHK, jika banyak
kejadian PHK maka daya beli masyarakat akan semakin turun.
Jika memenuhi kebutuhan dasar
saja gagal, kriminalitas akan naik atau turun, jika kemudian kriminalitas
menjadi naik, akankah masyarakat merasa aman, masyarakat merasa nyaman, jika
jalan - jalan saja harus menyimpan kekhawatiran pencurian, perampokan,
penjambretan dll. apakah aspek ini sudah benar - benar dikaji oleh pemerintah,
apakah aspek - aspek sosial, psikologis sudah diantisipasi? jika kenaikan BBM
justru menjadi sebuah bahan bakar terjadinya ketidakpercayaan kepada pemerintah,
jika kenaikan BBM menjadi sebuah pemicu munculnya kerusuhan secara massal,
masihkah menaikkan BBM menjadi satu - satunya pilihan?
Salah satu bahaya yang paling
ditakuti dari sebuah rasa ketidakamanan dan ketidaknyamanan adalah rasa
frustasi, rasa kecewa, jika akumulasi kekecewaan ini mencapai puncak yang tidak
dapat ditahan oleh koping manusia maka kerusuhan, penjarahan, kriminalitas,
kejahatan akan menjadi sebuah berita rutin yang didengar paska kenaikan harga
BBM, tidak semua bisa dimatematis, tetapi tidak ada sebuah kejadian pun yang
tidak menimbulkan dampak maupun akibat.
B. Sudut Kenaikan BBM.
Sikap Kami Terhadap Kenaikan BBM
Seperti yang kita ketahui,
Indonesia lagi “panas” tentang isu kenaikan BBM. Bagaimana sikap kita?
Bagaimana sikap kami? Supaya adil, kami akan mencoba objektif menjelaskan dari
beberapa sudut pandang untuk dianalisis kemudian disimpulkan.
“Berpikir objektif sangat
penting untuk pengambilan sikap yang tepat. Dinginkan kepala, lalu berpikir.”
1. Sudut
Pandang Pemerintah
Alasan pemerintah adalah untuk
menyelamatkan negara dari anggaran yang membengkak. Hal ini disebabkan karena
harga minyak dunia naik sehingga beban subsidi BBM akan bertambah besar. Mau
tidak mau harga harus naik!
2. Sudut
Pandang Pengusaha
BBM naik menyebabkan biaya
operasional naik. Hal ini bisa dicover dengan naikin harga barang yang
diproduksi.
3. Sudut
Pandang Akademisi
BBM naik menyebabkan harga
barang naik. Rakyat makin susah. Tolak!
4. Sudut
Pandang Masyarakat
Pasrah, cuma bisa terima.
5. Sudut
Pandang Parpol Oposisi
BBM naik, rakyat merasa susah!
Ayo tolak ramai-ramai !
C. Penyebab Terjadinya Inflasi.
Inflasi
terjadi apabila tingkat harga dan biaya umum naik; harga bahan pokok, harga
bahan bakar, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik.
Selain itu, inflasi juga diakibatkan oleh:
A. Pengeluaran
pemerintah lebih banyak dari permintaan,
B. Adanya
tuntutan upah yang tinggi,
C. Adanya
lonjakan permintaan barang-barang dan jasa-jasa,
D. Adanya
kenaikan dalam biaya produksi.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu
tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah
desakan (tekanan) produksi dan distribusi (kurangnya produksi (product or
service) juga termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan
moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari
peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh
Pemerintah (Government) seperti kebijakan fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),
kebijakan pembangunan infrastruktur dan regulasi.
Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total
yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar
sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat
harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan
permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan
terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan
terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi
karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang
bersangkutan dalam situasi full employment, dimanana biasanya lebih disebabkan oleh
rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas
di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya
kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku
bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor
industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation)
terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan juga termasuk adanya kelangkaan
distribusi, meskipun
permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan.
Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang
tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai
dengan berlakunya hukum permintaan dan penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru
terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru.
Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya
masalah teknis di sumber produksi, bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan
baku untuk menghasilkan produksi, aksi spekulasi (penimbunan), sehingga memicu
kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama
dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur
memainkan peranan yang sangat penting.
Jika
dihubungkan dengan kenaikan harga BBM, inflasi yang terjadi disebabkan oleh
adanya tekanan dalam proses produksi dan distribusi. Para produsen akan
mengurangi jumlah barang yang akan diproduksi atas pertimbangan biaya produksi
yang melonjak. Kalaupun proses produksi tetap lancar, proses distribusi lah
yang akan menghambatnya. Akibat dari kenaikan harga BBM biaya atau ongkos untuk
mendistribusikan barang hasil produksi akan mengalami kenaikan.
D. Dampak
Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Dalam situasi
ekonomi masyarakat yang sulit, maka kenaikan BBM bisa kontraproduktif. Kenaikan
harga BBM akan menimbulkan kemarahan masal, sehingga ketidakstabilan
dimasyarakat akan meluas (Hamid, 2000:144). Sebagian masyarakat merasa tidak
siap untuk menerima kenaikan harga BBM. Kenaikan BBM ini merupakan tindakan
pemerintah yang beresiko tinggi.
Meskipun demikian, kenaikan
harga BBM juga dapat menimbulkan dampak yang positif.
A. Dampak
Positif
1) Munculnya
bahan bakar dan kendaraan alternatif
Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
2)
Pembangunan Nasional akan lebih pesat
Pembangunan nasional akan lebih
pesat karena dana APBN yang awalnya digunakan untuk memberikan subsidi
BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi dicabut dan dialihkan untuk digunakan
dalam pembangunan di berbagai wilayah hingga ke seluruh daerah.
3)
Hematnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
Jika harga BBM mengalami
kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berkurang.
Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dapat diminimalisasi.
4)
Mengurangi Pencemaran Udara
Jika harga BBM mengalami
kenaikan, masyarakat akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Sehingga hasil
pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat berkurang, dan akan berpengaruh pada
tingkat kebersihan udara.
B. Dampak
negatif
1) Harga
barang-barang dan jasa-jasa menjadi lebih mahal.
Harga barang dan jasa akan
mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya produksi sebagai imbas dari
naiknya harga bahan bakar.
2) Apabila
harga BBM memang dinaikkan, maka akan berdampak bagi perekonomian khususnya
UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)
3) Meningkatnya
biaya produksi yang diakibatkan oleh: misalnya harga bahan, beban transportasi
dll.
4) Kondisi
keuangan UMKM menjadi rapuh, maka rantai perekonomian akan terputus.
5) Terjadi
Peningkatan jumlah pengangguran.
Dengan meningkatnya biaya
operasi perusahaan, maka kemungkinan akan terjadi PHK.
6) Inflasi
Inflasi akan terjadi jika harga
BBM menglami kenaikan. Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi
suatu barang atau jasa.
E. Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
Terhadap Inflasi dan Perekonomian.
Jika terjadi
kenaikan harga BBM, maka akan terjadi inflasi. Terjadinya inflasi ini tidak
dapat dihindari karena bahan bakar, dalam hal ini premium, merupakan kebutuhan
vital bagi masyarakat, dan merupakan jenis barang komplementer. Meskipun ada
berbagai cara untuk mengganti penggunaan BBM, tapi BBM tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Inflasi akan
terjadi karena apabila subsidi BBM dicabut, harga BBM akan naik. Masyarakat
mengurangi pembelian BBM. Uang tidak tersalurkan ke pemerintah tapi tetap
banyak beredar di masyarakat. Jika harga BBM naik, harga barang dan jasa akan
mengalami kenaikan pula. Terutama dalam biaya produksi. Inflasi yang terjadi
dalam kasus ini adalah “Cost Push
Inflation”. Karena inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan dalam biaya
produksi. Ini jika inflasi dilihat berdasarkan penyebabnya. Sementara jika
dilihat berdasarkan sumbernya, yang akan terjadi adalah “Domestic Inflation”, sehingga akan berpengaruh terhadap
perekonomian dalam negeri.
Kenaikan harga
BBM akan membawa pengaruh terhadap kehidupan iklim berinvestasi. Biasanya
kenaikan BBM akan mengakibatkan naiknya biaya produksi, naiknya biaya
distribusi dan menaikan juga inflasi. Harga barang-barang menjadi lebih mahal,
daya beli merosot, kerena penghasilan masyarakat yang tetap. Ujungnya
perekonomian akan stagnan dan tingkat kesejahteraan terganggu.
Di sisi lain,
kredit macet semakin kembali meningkat, yang paling parah adalah semakin
sempitnya lapangan kerja karena dunia usaha menyesuaikan produksinya sesuai
dengan kenaikan harga serta penurunan permintaan barang.
Hal-hal di
atas terjadi jika harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak? Subsidi pemerintah
terhadap BBM akan semakin meningkat juga. Meskipun negara kita merupakan
penghasil minyak, dalam kenyataannya untuk memproduksi BBM kita masih
membutuhkan impor bahan baku minyak juga.
Dengan tidak
adanya kenaikan BBM, subsidi yang harus disediakan pemerintah juga semakin
besar. Untuk menutupi sumber subsidi, salah satunya adalah kenaikan pendapatan
ekspor. Karena kenaikan harga minyak dunia juga mendorong naiknya harga ekspor
komoditas tertentu. Seperti kelapa sawit, karena minyak sawit mentah (CPO)
merupakan subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO tidak akan
sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi minyak.
F. Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian Nasional.
Kenaikan harga
BBM berdampak pada meningkatnya inflasi. Dampak dari terjadinya inflasi
terhadap perekonomian nasional adalah sebagai berikut:
1. Inflasi akan
mengakibatkan perubahan output dan kesempatan kerja di masyarakat,
2. Inflasi dapat
mengakibatkan ketidak merataan pendapatan dalam masyarakat,
3. Inflasi
dapat menyebabkan penurunan efisiensi ekonomi.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti
dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional
dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak
terkendali (hiperinflasi), keadaan
perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak
bersemangat kerja, menabung, atau
mengadakan investasi dan produksi karena harga
meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri
atau karyawan swasta
serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi
harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke
waktu.
Sementara
dampak inflasi bagi masyarakat, ada yang merasa dirugikan dan ada juga yang
diuntungkan. Golongan masyarakat yang dirugikan adalah golongan masyarakat yang
berpenghasilan tetap, masyarakat yang menyimpan hartanya dalam bentuk uang, dan
para kreditur. Sementara golongan masyarakat yang diuntungkan adalah kaum
spekulan, para pedagang dan industriawan, dan para debitur.
Inflasi dapat
dikatakan sebagai salah satu indikator untuk melihat stabilitas ekonomi suatu
wilayah negara atau daerah. Yang mana tingkat inflasi menunjukkan perkembangan
harga barang dan jasa secara umum yang dihitung dari indeks harga konsumen
(IHK). Dengan demikian angka inflasi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat
yang berpenghasilan tetap, dan disisi lain juga mempengaruhi besarnya produksi
dari suatu barang dan jasa.
G. Upaya Pemerintah dalam
Mengatasi Inflasi.
Beberapa kebijakan yang dapat
diambil pemerintah untuk mengatasi terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:
A. Kebijakan Moneter.
1. Politik
Diskonto
Untuk mengatasi terjadinya
inflasi, maka bank sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar dengan
cara bank sentral akan menaikan tingkat suku bunga pinjaman kepada bank umum.
Kebijakan ini juga disebut dengan Rediscount
Policy atau kebijakan suku bunga.
2. Politik
Pasar Terbuka (Open Market Policy)
Dalam politik pasar terbuka,
bank sentral akan menjual (jika terjadi inflasi) atau membeli (jika terjadi
deflasi) surat-surat berharga kepada masyarakat, sehingga ada arus uang yang
masuk dari masyarakat ke bank sentral.
3. Menaikan
Cash Ratio (Persediaan Kas)
Cash Ratio merupakan
perbandingan antara kekayaan suatu bank dengan kewajiban yang harus dibayarkan.
Untuk mengatasi inflasi, bank sentral akan menaikan cadangan kas bank-bank umum
sehingga jumlah uang yang bisa diedarkan oleh bank umum kepada masyarakat akan
berkurang.
4. Kebijakan Kredit
Selektif (Selective Credit Control)
Untuk mengatasi inflasi atau
mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka diambil kebijakan
memperketat kredit atau pinjaman bagi masyarakat.
5. Margin
Requirements
Kebijakan ini digunakan untuk
membatasi penggunaan untuk tujuan-tujuan pembelian surat berharga.
B. Kebijakan Fiskal.
Dalam
kebijakan fiskal, untuk mengatasi inflasi pemerintah harus mengatur penerimaan
dan pengeluaran yang dilakukan pemerintah. Dalam hal penerimaan, pemerintah
bisa menaikan tarif pajak, sehingga jumlah penerimaan pemerintah
meningkat. Kebijakan yang kedua adalah Expenditure Reducing, yakni mengurangi pengeluaran yang konsumtif,
sehingga akan mempengaruhi terhadap permintaan (Demand Full Inflation).
BAB III
KESIMPULAN
A. Simpulan.
Berdasarkan
uraian pada bab sebelumnya, penulis dapat mengemukakan simpulan dari masalah
yang dibahas. Inflasi merupakan melemahnya atau menurunnya nilai mata uang
karena banyaknya jumlah uang yang beredar dimasyarakat, atau suatau keadaan
dimana terjadinya kenaikan harga-harga secara umum dan terjadi secara
terus-menerus (continue).
Naiknya harga
bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak bagi masyarakat. Baik itu dampak
positif maupun dampak negatif. Dampak yang signifikan akan terjadi pada tingkat
inflasi dan pada kondisi perekonomian nasional. Dampak kenaikan harga BBM
terhadap inflasi adalah akan terjadi kenaikan pada tingkat persentase inflasi.
Jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, dan akan berdampak pula
pada harga berbagai jenis barang dan jasa. Kondisi perekonomian akan mengalami
goncangan, ketidakstabilan akan terjadi. Iklim investasi akan menurun, sehingga
berpengaruh pada jumlah pendapatan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan pemerintah
untuk mengatasi inflasi adalah dengan kebijakan moneter. Seluruh instrumen
kebijakan moneter efektif dalam mengurangi dan mengatasi inflasi.
Terlambatnya respons pemerintah
untuk mengelola ekspektasi inflasi akan membuat tingkat inflasi tahun ini
bergerak liar dan memberikan dampak yang tidak terlalu menggembirakan bagi
perekonomian Indonesia. Karena itu, beberapa langkah harus mendapat prioritas
pemerintah dan BI untuk meredam ekspektasi inflasi.
Pertama, pemerintah harus lebih
fokus dan inovatif untuk menjaga dan memperbaiki manajemen stok sebagai jaminan
bahwa barang (juga jasa), khususnya barang kebutuhan pokok, tersedia di pasaran
pada tingkat harga wajar. Selain memperbaiki jalur distribusi, pemerintah juga
harus mempersiapkan diri secara matang untuk melakukan operasi pasar.
Kedua, penegakan hukum untuk
meredam munculnya motif-motif spekulatif, seperti penimbunan BBM dan barang
kebutuhan pokok lainnya, perlu lebih diintensifkan. Dalam kaitan ini,
pemerintah perlu lebih serius melakukan penataan sistem monitoring dan evaluasi
agar tindakan bisa segera dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan spekulatif.
Aktivasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu menjadi bagian dari
penataan sistem monitoring dan evaluasi ini.
Ketiga, menekan biaya produksi
yang selama ini membebani baik sektor pertanian atau industri. Dalam kaitan
dengan sektor pertanian,ada baiknya pemerintah menjamin stabilitas harga dan
ketersediaan beberapa saprodi (sarana produksi pertanian), seperti pupuk,
pestisida, dan benih. Dalam kaitan dengan sektor industri, fokus perhatian
harus lebih diarahkan untuk mengeliminasi faktor-faktor yang mendorong
munculnya fenomena ekonomi biaya tinggi (seperti biaya birokrasi dan pungutan
liar).
Keempat, untuk menjaga persepsi
pasar bahwa inflasi terkendali, ada baiknya BI tidak terlalu sensitif untuk
menaikkan BI Rate. Artinya, BI rate sebaiknya tetap dipatok pada level 5,75
persen dan BI bisa menggunakan instrumen moneter lainnya, seperti giro wajib
minimum (GWM), untuk menstabilkan likuiditas.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar